Jakarta, tvOnenews.com - KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden RI ke-4 rupanya pernah menyampaikan pendapatnya tentang Ponpes Al Zaytun di Indramayu yang dipimpin oleh Panji Gumilang.
Ungkapan itu diketahui saat dirinya melakukan wawancara bersama NII Crisis Center (NCC) pada Mei 2011 lalu. Transkripan wawancara Gus Dur itu baru-baru ini kembali tersebar di pesan berantai WhatsApp.
Dalam wawancara itu, Presiden RI ke-4 itu menyebut Al Zaytun sebagai musuk kemanusiaan yang dapat merusak tatanan masyarakat.
"Al Zaytun itu bukan sekadar isu sesat. Zaytun itu musuh kemanusiaan, musuh bersama kita semua. Ia bagai mesin penghancur masa depan anak bangsa, Zaytun itu alat iblis untuk merusak tatanan masyarakat," ucap Gus Dur dalam transkrip wawancara yang beredar, dikutip tim tvOnenews.com pada Senin (24/7/2023).
Gus Dur juga menyebut bahwa Al Zaytun adalah obsesi yang dimiliki oleh Presiden RI ke-2 Soeharto.
"Itu punya Pak Harto. Beliau dulu punya obsesi At Tien dan Al Zaytun. Pak Harto tahu semua yang dikerjakan si Panji Gumilang," lanjutnya.
juga mengungkap keterlibatan Abu Toto dalam Ponpes Al Zaytun dan menyebut hal itu tak ada manfaatnya.
"Abu Toto itu anak emasnya Ali Moertopo. Itu proyek mercusuar yang enggak ada manfaatnya untuk bangsa," ucapnya.
Fakta lainnya pun terungkap dalam transkrip Gus Dur yang beredar itu. Ia menyebut sebelum reformasi Kopassus ditugaskan menjaga ponpes yang dipimpin oleh Panji Gumilang itu.
"Ia (PakHarto) yang memerintahkan Sa'adilah Mursyid mengirim sapi tapos ke Al Zaytun di tahun 1999. Sebelum reformasi yang jaga Al Zaytun itu kan Kopassus," ungkapnya.
Saat wawancara yang diketahui di 10 tahun berjalannya Al Zaytun itu, Gus Dur mengatakan tak jelas dengan hasil didikam ponpes tersebut. Bahkan saat itu, ia menyebut tahun tersebut akan menjadi tahun terakhir bagi Al Zaytun.
"Masyarakat di sana resah dan menganggap Al Zaytun enggak membawa manfaat apa-apa. Tanah mereka dirampas dan dibayar seenaknya. Al Zaytun itu hanya membangun propaganda kebaikan dan kesuksesannya sendiri. Yang begini enggak akan lama. Saya pikir tahun ini akan jadi tahun terakhir buat Al Zaytun," tegasnya.
Pondok Pesantren (Ponpes) Al Zaytun hingga kini masih terus menjadi sorotan masyarakat karena banyaknya hal yang kontroversial.
Belakangan publik melihat bahwa Ponpes Al Zaytun mengundang putra Dipa Nusantara Aidit atau DN Aidit dalam agenda Peringatan 1 Syuro 1445H.
Putra DN Aidit yang bernama Ilham Aidit tersebut tidak sekadar hadir namun juga menyampaikan sambutan. Diketahui Ilham Aidit merupakan putra keempat dari pasangan DN Aidir dan dr. Soetanti.
Bergelar insinyur, Ilham Aidit diketahui juga menjadi pendiri Forum Silaturahmi Anak Bangsa. Dalam sambutannya di acara Peringatan 1 Syuro 1445H, Ilham Aidit mengawali sambutannya dengan menyampaikan salam hormat terhadap Panji Gumilang.
Ia juga mengaku kaget mendapatkan undangan dari ketua panitia agenda acara Ponpes Al Zaytun tersebut.
“Saya nggak menyangka atau nggak pernah mimpi bahwa saya diundang hadir dalam acara yang sangat meriah ini yang dilakukan setiap tahun, 1 Muharram,” ungkap Ilham Aidit dilansir dari kanal YouTube Al Zaytun Official (19/07/2023).
“Dan khususnya apa? Khususnya orang mengenal saya sebagai Ilham Aidit, anaknya Pak Aidit yang adalah orang yang selama puluhan tahun didaulat sebagai musuh bangsa. Jadi tiba-tiba ada anak komunis yang diundang ke pesantren,” sebut Ilham Aidit dengan nada berkelekar.
Menurut Ilham Aidit dirinya justru merasakan kebesaran hati dan pikiran yang terbuka dari seorang Panji Gumilang.
“Saya melihat kebesaran hati, terbukanya wawasan, pikiran, seorang Syekh Panji Gumilang. Itu disampaikan oleh Mas Eji (ketua acara) ‘buat kami nggak ada bedanya, buat kami kiri, kanan, tengah, itu pernah sama-sama membangun bangsa ini’,” ungkap Ilham.
Dalam sambutannya di Ponpes Al Zaytun, Ilham Aidit menceritakan mengenai kisah pembuatan Piagam Jakarta atau Jakarta Charter. Dirinya menyebut bahwa Jakarta Charter menjadi gambaran bahwa jika negara ingin maju maka seluruh masyarakat harus bersatu.
“Apa yang saya ingin katakan adalah ada begitu banyak pendiri bangsa, yang memang menyadari betul bahwa bila negara ingin berdiri, bila negara ingin maju maka kita harus bersatu, maka kita harus saling mengalah, penuh toleransi, untuk mendapatkan sebuah kesepakatan untuk berjalan bersama,” ungkap Ilham.
Pada sambutannya, Ilham mengatakan bahwa ia mengira Ponpes Al Zaytun penuh dengan orang-orang yang bersarung, selayaknya pesantren pada umumnya. Namun secara mengejutkan ia justru menemukan hal berbeda di Ponpes Al Zaytun.
“Di sini saya terkejut dengan suasana, dengan cara bicara, bahkan busana kawan-kawan sekalian yang betul-betul moderat, betul-betul terbuka, dan tidak mencerminkan komunitas yang puritan. Saya sendiri kemudian pikir apa masalahnya yang selama ini dipermasalahkan orang?” sebut Ilham.
“Tapi ketika saya hadir di sini saya bicara dengan banyak kawan-kawan atau orangtua murid di malam hari ini, mereka orang-orang yang terbuka, mereka orang-orang yang berpikir maju, saya betul-betul geleng-geleng kepala. Terus terang saya merasa saya berada di tempat yang benar,” tambahnya.
Menutup sambutannya Ilham lantas menceritakan bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seseorang perlu mengutamakan toleransi dan dorongan untuk selalu berdamai serta berbicara baik-baik.
Dengan mengutamakan toleransi maka suatu masyarakat akan lebih mudah melangkah untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik ke depannya. (lsn/ree)
Load more