8. Kemudian di hari berikutnya mulailah aku menuruti request pap atau video yg ia minta, diselingi dengan iming2 mobil impian yg sudah dipesan dan siap meluncur ke rumahku (aneh/bodohnya aku tetap tidak sadar). Karena kita hanya lewat IG dan dia tidak mau berpindah ke WA dengan alasan sinyal dan tidak ada akses WA, video yg kukirim rata-rata semua durasi 1 menit, kita tidak bisa bertukar video lebih panjang dari itu.
9. Pelaku juga mengaku tidak available untuk video call dengan alasan keamanan atau alasan tidak ada sinyal.
Namun, suatu ketika dia request aku untuk bisa VC dan melakukan adegan vulgar, kurang dr 3 menit VC itu oleh pelaku simpan, pelaku sendiri dalam VC tidak menunjukan wajahnya, yg on cam hanya aku saja, aku menuruti intruksi pelaku dengan polosnya dengan alasan dia tidak bisa on cam karena susah sinyal atau takut resiko di tempat dia bertugas
10. jadi cukup aku saja yg melakukan pose untuk menyenangkannya. Sampai yg paling ekstrem akhirnya di siang hari pun pelaku request, pada saat aku mengajar, dia minta video Ig. Terjadilah ada 2 video yg lokasinya di tempatku bekerja.
11. Singkat cerita tgl 9 November pelaku mulai tidak asyik lagi untuk diajak jadi teman bicara, hubungan mulai renggang dan aku mulai sadar kalau hadiah yg dijanjikan itu hanyalah bualan semata. Pernah sempat berharap mungkin masih bisa dikabari pelaku untuk datang ke kotaku h-2 sebelum aku ulang tahun. Tp itu tidak pernah terjadi, akupun menganggap itu sudah berakhir dan aku lanjutkan kehidupan sehari-hari seperti biasa dan aku mulai ada kesibukan pekerjaan.
12. Aku menjalani hari seperti biasa, mendapatkan kekasih baru di real life-ku. Hingga kejadian itu tiba, tgl 10 februari aku di WA oleh salah sat teman yang dulu sempat aku respon, mengabarkan kalau video vulgarku viral di aplikasi X. Dan temanku itu menjanjikan untuk membantu menangani kasus ini dengan meminta imbalan sesuatu. Aku yg panik dan malu ini diketahui oleh kekasihku, akhirnya aku mencoba nurut untuk dibantu. Akun IG di serahkan ke temanku
13. Namun bukannya masalah selesai, timbul masalah baru. Temanku ini bukanlah polisi siber, jadi mungkin kurang mengerti untuk penanganannya dan keburu emosi. Dia hanya melakukan report akun di X yg mana itu percuma karena pelaku sindikat sudah melakukan jual beli konten di telegram. Karena pelaku tau akunnya di report, pelaku mengancamku, temanku tersebut membalas dengan marah-marah dan akan mencarinya dimanapun pelaku berada. Setelah itu aku sadar hal Ini tidak bisa dilakukan untuk kasus ini.
14. Temanku jg menghapus video-video kiriman di IG (yg mana itu merupakan bukti perkara), pelaku yang menyadari hal itu, langsung menghapus akunnya. Percakapan yg dari sisi pelakupun akhirnya hilang seiring dengan dihapus nya akun pelaku, maka jejak alamat IP (Iokasi) pelaku tidak akan terlacak lagi.
15. Aku sempat berfikir harusnya bisa saja di awal tidak marah-marah, pura-pura akan mengirimkan uang tebusan sembari bisa melacak lokasi dan nomer rekening pelaku.
Load more