Jakarta, tvOnenews.com - Kebijakan awal Presiden Donald Trump menimbulkan kekhawatiran di Federal Reserve terkait potensi inflasi yang lebih tinggi.
Keputusan ini diambil dalam Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Januari lalu, dengan hasil yang dirilis pada Rabu (19/2). "Secara khusus, peserta menyebutkan kemungkinan dampak dari perubahan kebijakan perdagangan dan imigrasi, potensi gangguan rantai pasokan akibat perkembangan geopolitik, serta peningkatan pengeluaran rumah tangga yang lebih tinggi dari perkiraan."
Meskipun The Fed masih optimis bahwa tekanan harga akan mereda dalam beberapa bulan mendatang, beberapa faktor berpotensi menghambat proses disinflasi.
Di antaranya adalah tarif impor, pengurangan regulasi, dan kebijakan pajak. Selain itu, beberapa indikator ekspektasi inflasi yang menjadi perhatian utama The Fed menunjukkan peningkatan dalam beberapa waktu terakhir.
Ketua The Fed, Jerome Powell, secara umum menghindari spekulasi mengenai dampak tarif. Namun, beberapa pejabat The Fed mengakui bahwa kebijakan Trump dapat mempengaruhi keputusan suku bunga, yang berpotensi menunda pemotongan suku bunga berikutnya.
Saat ini, pasar finansial memperkirakan pemangkasan suku bunga akan terjadi pada Juli atau September tahun ini, dengan suku bunga pinjaman acuan The Fed saat ini berada di kisaran 4,25%-4,5%.
Load more