Bahlil mempertegas, ekspor energi hijau berupa listrik bersih dari Indonesia ke Singapura perlu disertai dengan perlakuan yang adil antara kedua belah pihak. Kata Bahlil, jika Singapura mau mendapatkan listrik bersih dari Indonesia, maka Singapura juga harus memberi manfaat lebih kepada Indonesia daripada sekadar transaksi.
Padahal, rencana itu telah dicanangkan oleh Luhut masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) di era Presiden ke-7 Joko Widodo.
Luhut pun telah angkat bicara soal proses perizinan ekspor listrik ke Singapura yang masih ditahan oleh Bahlil.
"Ekspor itu sudah kita lalui suatu proses pengambilan keputusan, di mana kita juga sangat memperhatikan kepentingan nasional," kata Lugut usai Bloomberg Technoz Economic Outlook 2025 di Soehanna Hall, Jakarta Selatan, Kamis (20/2).
Luhut menegaskan, Kemenko Marves saat itu tetap mengutamakan kebutuhan listrik di dalam negeri meski RI menjual listrik bersih ke negara tetangga.
Terlebih, pembangunan Data Center di Indonesia nantinya juga memerlukan green energy. Namun, Luhut akhirnya tak banyak bicara soal kebijakannya yang sejauh ini masih ditahan Bahlil.
Luhut mempersilakan Menteri ESDM agar menelaah lebih lanjut lagi rencana ekspor listrik. "Ya, silakan saja dilihat," tegasnya.
4. Masalah BBM Bersubsidi
Bahlil juga buka suara soal opsi pencampuran atau skema blending saat ini menjadi alternatif paling memungkinkan untuk penyaluran BBM Bersubsidi.
Load more