Menariknya, Ifan menepis anggapan bahwa seorang Direktur Utama di PFN harus berasal dari kalangan profesional perfilman. Dia mencontohkan bahwa dua Dirut PFN sebelumnya justru berasal dari industri telekomunikasi dan migas.
"Pak Dwi (mantan Dirut sebelum saya) bukan dari latar belakang perfilman, tapi dia mampu memimpin PFN dengan sangat luar biasa," terangnya.
Namun, keputusan Ifan untuk menerima jabatan ini bukan tanpa risiko. Kondisi PFN saat ini sedang jauh dari kata sehat. Ifan mengungkapkan bahwa perusahaan milik negara ini tengah menghadapi:
Utang puluhan miliar rupiah
Gaji karyawan dibayarkan hanya 30-40%
Tunjangan Hari Raya (THR) gagal cair
Peralatan produksi film banyak yang tak layak pakai
Kerusakan pada bangunan kantor
Yang lebih pelik, PFN tidak mendapatkan suntikan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Jadi, jika target bisnis meleset, dampaknya langsung terasa pada keuangan perusahaan dan kesejahteraan karyawan.
"Pembayaran gaji para karyawan maupun direksi saat ini tidak penuh, bahkan hanya sekitar 30–40%. Dan ini sudah berlangsung berbulan-bulan," ungkap Ifan dengan nada serius.
Meski beban yang dipikul berat, Ifan menegaskan dirinya tidak akan lari dari tanggung jawab. Tapi ada satu syarat yang dia ajukan, jika ada orang yang lebih mampu memimpin PFN, dia siap mundur tanpa drama.
Load more